Bahasa Bisnis

Saya sering menerima curhatan tentang para pemilik bisnis yang saling silang sengketa. Awalnya mereka membangun bisnis bersama, di kemudian hari mereka akhirnya konflik atas hal-hal yang tidak sefaham. Runyam sekali.

bahasa bisnis


Temuan Saya sederhana, masing-masing mereka memiliki persepsi yang berbeda-beda atas proses pencatatan keuangan. Yang satu menganggap A adalah cost, tetapi yang satu nenganggapnya sebagai investasi pembelian perlengkapan yang seharusnya tidak termasuk cost.

Debat tentang cost ini akhirnya membentuk profit yang berbeda.

Belum lagi silang beda pendapat tentang berapa profit yang harus diambil dan ditahan.

Pemahamannya sungguh berbeda bumi dan langit antara orang satu dengan orang yang lainnya.

***

Ketidak-fahaman akuntansi ini juga menjalar di beberapa business owner. Sebagai seseorang yang ingin membantu mencarikan jalan pertumbuhan, Saya terkadang terbentur dengan pemahaman owner yang keliru tentang dasar-dasar akuntansi.

Ada kasus sales yang tidak dimasukkan di pencatatan, cuma gara-gara penjualan terjadi secara piutang. Padahal dalam pencatatan akuntansi, sales yang terjadi harus ditulis secara lengkap dan langsung mencetak profit jika ada. Urusan pembayaran piutang hanya menggerakkan angka pada kolom piutang ke kolom cash.

Owner juga tidak dapat memahami mengapa dia harus digaji. Yang terjadi adalah pengambilan suka-suka yang membuat neraca bisnis tak kunjung memberat. Sulit memahamkan owner yang tidak faham bahasa bisnis : akuntansi.

***

Ketidaktahuan akan bahasa finansial ini akhirnya banyak menjebak para business owner. Bagaimana mungkin ada dana yang diakadkan hutang, tetapi meminta bagian dari pembagian hasil usaha. Dan yang menghutangi tidak mau menerima resiko rugi.

Ada dana yang harusnya berjenis kelamin LIABILITY/DEBT, namun diperlakukan layaknya EQUITY. Benar-benar berantakan gak karuan. Dan semua itu bermula dari buta bahasa bisnis.

Sikap menyepelekan bahasa keuangan ini akhirnya menjebak banyak business owner untuk terus berdarah-darah di jalan bisnis.

***

Maka tak heran jika Warren Buffet berpesan,

"Akunting adalah bahasa bisnis, jika kamu tidak memahami akunting, jangan melakukan investasi atau mengurus bisnis."

Awalnya, Saya termasuk anti dalam urusan Akuntansi. Pelajaran akuntansi di SMA tidak sanggup saya fahami dengan benar.

Akhirnya, Saya menemukan pelatihan bahasa finansial yaitu Financial Literacy yang dibawakan oleh seorang pengusaha sukses Indonesia (saya gak sebut ya, takut beliau gak berkenan). Berikutnya, Saya kemudian belajar beberapa sumber bacaan dan visual dari Keith Cunningham.

Proses belajar mandiri itu kemudian membawa Saya menyelami bahasa finansial dengan lancar. Pondasi finansial ini bahkan menjadi cara main Saya ketika memang ada sahabat pebisnis yang ingin meminta nasehat. Saya akan memulai dari ukuran-ukuran yang jelas : laporan keuangan.

***

Sahabat, Saya menyarankan Anda untuk belajar akuntasi dan analisa keuangan. Terutama Anda yang berniat menjadi pebisnis, telah menjadi pebisnis atau bahkan para profesional yang sedang mengurus bisnis seseorang. Belajarlah bahasa keuangan dengan baik dan benar.

Rendy Saputra
Mentor di www.MelekFinansial.co

KR Business Notes
Selasa, 30 April 2019

Belum ada Komentar untuk "Bahasa Bisnis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel