LIKA-LIKU PERUSAHAAN KELUARGA

Secara umum kepemilikan sebuah bisnis dibagi menjadi dua tipe. Tipe kepemilikan perorangan dan kepemilikan bersama.

Tipe kepemilikan perorangan ini biasanya disebut dengan perusahaan keluarga. Owner nya ya satu orang atau anggota keluarga terbatas. Dan yang mayoritas perusahaan menengah di Indonesia masih dimiliki perorangan atau pihak keluarga.



Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan lama datang untuk minta nasehat. Dia bercerita tentang perusahaan keluarga tempat dia berkarir. Dari cerita itulah Saya kemudian mendapatkan banyak pelajaran, bahwa tantangan perusahaan keluarga ini tidaklah mudah.

***

Pada konsep kepemilikan perorangan, biasanya otoritas bisnis dikuasai oleh satu orang. Maka selanjutnya, otoritas pengambilan keputusan juga bertumpu di satu orang.

Pada perusahaan generasi pertama, sebuah perusahaan biasanya masih dipimpin oleh sang founder. Maka karakter sang founder biasanya masih sangat dominan dan sangat desesif dalam mengambil keputusan.

Hal ini membuat sebuah perusahaan keluarga berpusar pada satu orang. Positifnya, sebuah keputusan bisa cepat diambil. Organisasi relatif gesit. Cepat bergerak. Karena sebuah pertimbangan cukup diputar di kepala sang founder. Adapun kebutuhan diskusi, paling hanya sebatas diskusi teknis ke jajaran operasional.

Namun negatifnya, sebuah keputusan sangat personal. Ini yang gawat. Kepemilikan dengan konsep satu orang ini rawan salah ambil keputusan. Karena sang founder tidak ada urgensi untuk bermusyawarah dengan banyak pihak.

Pada perusahaan kepemilikan bersama, seorang pemilik tidak bisa memutuskan sebuah kebijakan sendiri. Perlu ada rapat diantara pemilik. Atau ketika direktur lebih dari satu, seorang direktur perlu berdiskusi dengan banyak pihak.

Kembali lagi ke perusahaan dengan kepemilikan personal, kebijakan dan keputusan akan sangat personal. Bisa jadi mood founder sangat mempengaruhi. Maka bisa jadi perusahaan menjadi moody, tergantung mood sang founder.

***

Pada curhatan kawan yang datang konseling, saya menemukan kasus saling operasi ke sang owner. Perusahaan terbagi menjadi tiga kubu, diwakili oleh tiga orang yang terus bergerilya ke owner untuk saling menjelekkan dan menjatuhkan kubu yang lain.

Celakanya, karakter sang founder sangat mudah terpengaruh hasutan arus bawah. Tidak ada sistem check and re-check secara objective. Akhirnya keputusan yang diambil membabi buta. Sesuai dengan hasutan info yang ada. Terkadang hasutan menghantam kubu A, terkadang ke kubu B dan terkadang ke kubu C.

Ketika masalah mulai diurai, benang kusutnya terlalu dalam. Orang-orang terbaik resign karena peliknya organisasi. Tidak ada sistem yang bisa jadi pegangan. Tidak ada objektivitas dalam menilai manusia. Mood founder menjadi acuan. Keputusan personal founder menjadi kebijakan sakti. Intuisi founder mengalahkan data lapangan.

Perusahaan kepemilikan personal,
Ditambah dengan mood founder yang turun naik,
Dipadu padan dengan tidak adanya individu yang bisa berdiskusi sejajar dengan founder,
Ditambah lagi banyaknya hantu penghasut di organisasi bisnis.

Kesemua ini menjadi ramuan ruwetnya sebuah perusahaan keluarga yang harusnya bisa tumbuh besar.

***

Saya berani menuliskan ini, karena inilah yang sering terjadi pada banyak perusahaan keluarga di negeri ini. Keputusan yang sangat personal, sehingga sebuah pengambilan keputusan kehilangan objektivitas pada data lapangan yang ada. Semua berdasar intuisi sang owner.

Guna menjelaskan hal ini lebih dalam, Saya menyiapkan 20 menit audio penjelasan tentang artikel ini di grup Audio WA Kang Rendy malam ini pukul 21.00.

Bagi yang belum tergabung ke grup Audio KRBN, silakan ketik :

"Join Grup Audio WA Kang Rendy" kirim ke WA 085220000122

Secara perlahan Saya jelaskan tentang bagaimana caranya mengatasi keruwetan pada mekanisme organisasi perusahaan keluarga.

Penulis,
Rendy Saputra

Belum ada Komentar untuk "LIKA-LIKU PERUSAHAAN KELUARGA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel