Sumbatan Perubahan

Perusahaan keluarga yang mencapai level pertumbuhan tertentu pastilah haus akan perbaikan sistem. Ketika sales melesat ratusan kali, lalu beban operasional makin besar, ditambah area layanan yang meluas, organisasi pasti harus membenahi sistem kerja. Gaya tradisional tidak mungkin dipertahankan.

sumbatan perubahan

Namun pada kenyatannya, pada perusahaan keluarga, hampir seluruh misi perbaikan mengalami hambatan yang cukup serius. Hambatan tersebut bukan datang dari luar perusahaan, namun malah datang dari dalam organisasi.

Maka penting bagi para pelaku bisnis untuk memahami darimana hadirnya hambatan tersbut. Kita perlu memahami akar hambatannya, agar kemudian perusahaan bisa terus melakukan misi perbaikan.

Tulisan kali ini akan membantu para pelaku bisnis untuk mengetahui sumbatan perubahan yang sering ditemukan pada perusahaan keluarga.

1. Karyawan yang Lembam

Ketika sebuah benda didorong dari posisi diam untuk kemudian bergerak, kita membutuhkan energi yang cukup besar untuk mendorongnya. Tetapi ketika ia sudah bergerak, energi yang dibutuhkan untuk memastikan ia terus bergerak tentu lebih kecil. Inilah hukum kelembaman.

Sekumpulan karyawan yang sudah hidup didalam budaya dan sistem terdahulu tentu akan sangat nyaman dengan sistem yang ada. Maka perubahan sistem adalah ketidaknyamanan bagi karyawan existing.

Ketika perubahan organisasi dilakukan, tidak sedikit organisasi yang harus menambahkan rangkaian proses pada bisnisnya. Seakan-akan ada birokrasi yang harus dibangun untuk menjaga keteraturan. Dan ini tentu bikin gak nyaman.

Jika dahulu minta pencairan dana cukup pakai WA, sekarang pencairan dana harus memakai form pengajuan digital. Jika dahulu pencairan dana bisa dilakukan setiap hari, maka sekarang pencairan dana dilakukan hanya sehari dalam sepekan.

Jika dahulu seseorang bekerja tanpa ukuran yang jelas, maka hari ini mereka bekerja dengan ukuran yang ditentukan. Keberhasilan mereka diukur secara angka. Ada indikator kunci dari setiap unit posisi didalam perusahaan. Dan pengukuran ini sudah jelas tidak membuat nyaman.

Maka tidaklah mengherankan apabila arus bawah ini bergerak melawan perubahan yang ada.

2. Para penjahat berbulu domba

Kelompok kedua yang biasanya paling gak suka ketika terjadi pembenahan perusahaan adalah para penjahat. Mereka adalah sosok-sosok vampir yang dengan senyap menggerogoti perusahaan dari dalam.

Praktek para penjahat ini biasanya berpusar pada praktik pengambilan keuntungan pribadi secara ilegal.

Para penjahat ini biasanya mengincar gratifikasi dari supplier. Sehingga perusahaan tidak memiliki harga diri yang tinggi dalam melakukan tawar menawar bahan baku supply. Mengapa? Karena petugasnya sudah kena sogok kickback procurement.

Lalu kemudian para penjahat ini biasanya ahli menemukan lubang pada sistem proses bisnis perusahaan. Mulai dari menilep inventory, menilep uang penjualan, melakukan mark up harga ada berbagai titik operasional.

Maka ketika sebuah perubahan pada perusahaan ini dilakukan. Biasanya para penjahat ini yang kemudian sangat nyaring bersuara. Karena perubahan menuju kebaikan ini pastilah mengganggu "obyekan haram" yang biasa mereka lakukan.

Tidak bisa lagi menerima kickback dari supplier, karena bidding vendor dilakukan terbuka.

Tidak bisa lagi menilep inventory di gudang, karena storage room sudah memiliki pola pencatatan keluar masuk barang yang cermat. Maling-maling gudang sudah tidak bisa berkutik. Stock opname rutin dilakukan berkala.

Tidak bisa lagi melakukan mark up dari cost perjalanan, karena lawan transaksi harus menyertakan bukti nota berfaktur pajak. Tidak ada lagi nota ghaib yang tidak jelas sumber transaksinya.

Inilah gelagat para penjahat. Penjahat inilah yang seakan-akan manis menjilat owner, tetapi sebenarnya adalah penjahat yang menjadi parasit didalam organisasi bisnis perusahaan keluarga.

Merekalah yang sangat terganggu dari misi perubahan yang ada.

3. Owner yang ngeyel

Kelompok berikutnya yang ternyata menjadi sumber hambatan terbesar adalah sang owner itu sendiri. Semua langkah perbaikan sistem perusahaan menjadi nihil prosesnya apabila seorang owner tidak mampu merubah karakter negatif yang ada didalam dirinya.

Tidak sedikit owner yang akhirnya mau tunduk pada sistem yang ada.

Tidak sedikit owner yang tidak terima aktivitas eksekusinya diserahkan kepada sosok yang lebih ahli, dikarenakan ketidak percayaannya kepada tim.

Tidak sedikit owner yang kemudian gagal menurunkan egonya. Sehingga para konselor atau konsultan yang bertugas melakukan perbaikan bisnis akhirnya harus memposisikan diri sebagai vendor yang dibayar, sama sekali tidak punya pengaruh pada sang owner.

Maka inilah ketiga sumber hambatan yang biasanya ada didalam perusahaan keluarga. Hambatan untuk perbaikan. Hambatan untuk perubahan.

Lalu bagaimana untuk membuka hambatan tersebut?

Saya menyiapkan rekaman audio berdurasi lebih dari 25 menit untuk membahas tentang "Bagaimana sebuah perusahaan keluarga dalam menghadapi dan membuka sumbatan-sumbatan tersebut."

InsyaAllah rekaman audio tersebut akan Saya upload pada grup WA audio Kang Rendy pada hari Sabtu, 27 Juli 2019 pukul 13.00

Silakan bergabung dengan grup WA audio Kang Rendy dengan mengetik "join Grup WA Audio" kirim WA 085220000122

Pastikan Anda bergabung segera.

Tulisan ini juga bebas untuk diforward ke sahabat Anda yang memerlukan. Terutama kepada mereka yang sedang memimpin perubahan di sebuah perusahaan keluarga, dan mengalami hambatan yang cukup serius.

Terima Kasih.
Rendy Saputra

Belum ada Komentar untuk "Sumbatan Perubahan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel